Tepian News – Upaya percepatan swasembada pangan di Kalimantan Timur masih menghadapi tantangan serius.
Dari target pencetakan sawah baru seluas 20.000 hektare yang dialokasikan pemerintah pusat, realisasi di lapangan hingga saat ini baru mencapai sekitar 6.600 hektare.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menilai capaian tersebut belum sejalan dengan target yang ditetapkan.
“Percepatan program cetak sawah membutuhkan kerja kolektif lintas sektor, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah kabupaten/kota, hingga kelompok tani,” kata Seno Aji.
Seno Aji menegaskan, jika seluruh target lahan dapat direalisasikan dan ditanami dua kali dalam setahun, produksi padi Kaltim berpotensi mencapai 350 ribu hingga 400 ribu ton per tahun.
Angka tersebut dinilai cukup untuk menopang swasembada pangan daerah. Namun, keterbatasan waktu sekitar 10 bulan ke depan menjadi faktor krusial yang harus diantisipasi.
Sebagai contoh, ia menyoroti keberhasilan demplot pertanian di Bukit Biru yang mampu menghasilkan panen hingga 6,8 ton dari lahan seluas 10 hektare.
“Produktivitas harus didukung penerapan teknologi pertanian modern, seperti mekanisasi, pemetaan lahan berbasis teknologi, serta pemupukan menggunakan drone,” jelasnya.
Untuk mempercepat realisasi program, Seno Aji mendorong percepatan tahapan pendataan calon petani dan calon lokasi (CPCL), verifikasi lapangan, penyusunan survei investigasi desain (SID), hingga penetapan denah sawah secara cepat dan terukur.
Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kaltim, Fahmi Himawan, menyatakan seluruh usulan cetak sawah rakyat akan diproses melalui verifikasi berbasis overlay peta.
“Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesesuaian lahan dengan kawasan budidaya pertanian sesuai regulasi,” ungkapnya.
Data pemerintah provinsi menunjukkan, dari total luas wilayah Kaltim sekitar 12,7 juta hektare, hanya 3,6 juta hektare yang tergolong kawasan pertanian.
Di tingkat kabupaten/kota, sebagian besar lahan justru dialokasikan untuk sektor perkebunan, sehingga mempersempit ruang pengembangan sawah baru.
Berdasarkan radiogram kementerian, alokasi cetak sawah terbesar berada di Kutai Barat seluas 11.500 hektare, diikuti Kutai Kartanegara 6.500 hektare dan Berau 2.000 hektare.
Untuk wilayah Berau, seluruh lahan telah dinyatakan clear dan saat ini berada pada tahap SID, sementara daerah lain masih dalam proses pengembangan.
“Kondisi tersebut menjadi tantangan utama dalam percepatan cetak sawah di Kaltim, sekaligus penentu keberhasilan target swasembada pangan di daerah,” tegasnya. (*)



