Tepian News – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim menggelar Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi, dalam rangka merumuskan perencanaan penanggulangan bencana hidrometeorologi.
Diketahui hidrometeorologi adalah bencana alam yang berhubungan dengan fenomena atmosfer (meteorologi) dan air (hidrologi), serta lautan (oseanografi), yang disebabkan oleh aktivitas cuaca ekstrem seperti curah hujan ekstrem, angin kencang, banjir, tanah longsor, kekeringan, puting beliung, gelombang pasang, dan kebakaran hutan
Sri Wahyuni, Sekretaris Provinsi (Sekprov) Kaltim, mendorong BPBD mesti memiliki data, pemetaan dan perencanaan.
“BPBD itu tidak hanya aktif dalam penanganan bencana. Tapi, aktif melakukan pencegahan melibatkan berbagai pihak maupun masyarakat agar bersiap diri dalam mengatasi bencana,” kata Sri Wahyuni.
Menurutnya, BPBD harus tetap melakukan simulasi (pelatihan) siaga bencana. Termasuk, penanggulangan bencana hidrometeorologi.
“Bencana hidrometeorologi ini bukan baru, tapi warisan, yang siklusnya ada tahunan, lima tahunan,” jelasnya.
Karena itu, jika ada rencana aksi maka dapat diketahui apakah siklus hidrometeorologi itu tahunan, lima tahunan bahkan 10 tahunan.
“BPBD harus memiliki perencanaan dan pemetaan melalui data yang diberikan yang dapat dipertanggungjawabkan,” paparnya.
“Misal ketika 2025 hingga 2026 sudah diketahui perencanaannya, maka antisipasinya dan perlu ada dukungan masyarakat seperti apa,” sambungnya.
BPBD dapat memberikan pelatihan kepada Satuan Pelaksana (Satlak) sebagai ujung tombak di masing-masing wilayah, yakni Satlak Desa dan Kelurahan serta Kecamatan se Kaltim.
“Kalau mereka sudah biasa melakukan pelatihan, banyak relawannya. Maka, sudah pantas kita berikan mereka penghargaan,” tegasnya.
Sekretaris BPBD Kaltim, Yasir, menjelaskan rakor ini digelar dalam rangka menyatukan persepsi dan evaluasi rencana aksi penanggulangan bencana hidrometeorologi di Kaltim.
“Kami ingin adanya kesepakatan bersama apa yang harus dilakukan selama 2026 nanti,” ungkapnya. (*)



