Tepian News – Saefuddin Zuhri, Wakil Wali Kota Samarinda bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Samarinda membahas langkah strategis dalam menjaga stabilitas harga di daerah.
Saefuddin Zuhri melaporkan tingkat inflasi Samarinda pada September 2025 tercatat sebesar 2,16 persen (year-on-year) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 108,49.
Angka ini masih berada di ambang batas aman dan menunjukkan pengendalian harga yang cukup baik.
“Kenaikan inflasi 2,16 persen masih dalam batas wajar. Pemerintah Kota bersama seluruh unsur terus berupaya menekan laju inflasi agar tetap stabil demi kesejahteraan masyarakat,” kata Saefuddin Zuhri.
Dirinya memparkan operasi pasar terus dilakukan di lapangan untuk menstabilkan harga komoditas kebutuhan pokok.
“Persediaan bahan pokok kita masih aman dan cukup. Namun, kita tetap waspada terhadap cuaca yang tidak menentu karena bisa berdampak pada sektor perikanan dan pasokan pangan,” sambungnya.
Sementara itu, Marnabas, Asisten II Sekkot Samarinda, menekankan pentingnya menjaga sinergi antarinstansi dalam mengendalikan inflasi.
“Kolaborasi semua pihak inilah yang membuat inflasi Samarinda tetap terkendali. Ini harus dipertahankan,” ungkapnya.
la menyoroti komoditas pertanian, terutama cabai, yang kerap menjadi pemicu inflasi. “Ketapangtani perlu teru meningkatkan produksi pertanian lokal. Cabai dan bahan pangan lain yang fluktuatif harus mendapat perhatian serius,” paparnya.
Marnabas menambahkan operasi pasar terbukti efektif dalam menjaga harga tetap stabil, dan setiap pekan dilakukan pengecekan stok di tingkat distributor.
“Kami berharap ada kerja sama erat dengan pihak Kejaksaan dan aparat penegak hukum lain, karena kadang ada distributor yang enggan membuka data stok,” tegasnya.
Gambaran Inflasi September 2025 Stabil dengan Tekanan Ringan. Menurut data yang dipaparkan oleh Bagian Ekonomi dan BPS Samarinda:
Inflasi Year-on-Year (y-on-y): 2,16 persen, sementara Inflasi Month-to-Month (m-to-m): 0,14 persen, dan Inflasi Year-to-Date (y-to-d): 1,72 persen.
“Penyumbang inflasi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya, terutama akibat kenaikan harga beras dan emas perhiasan,” sebutnya.
Sedangkan sektor transportasi dan peralatan rumah tangga justru mengalami deflasi, menahan laju kenaikan harga secara keseluruhan.
“Kondisi ini menunjukkan inflasi Samarinda masih terkendali secara moderat dengan tekanan harga yang relatif ringan, berkat kerja sama lintas instansi dan kebijakan intervensi pasar yang konsisten dilakukan pemerintah kota,” pungkasnya. (*)



