Tepian News – Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) berupaya meningkatkan produktivitas pangan di wilayah Nusantara, melalui pengenalan varietas unggul Padi Gogo dan penerapan teknologi pertanian konservasi agar memberikan hasil panen lebih tinggi, ramah lingkungan, serta sesuai dengan karakteristik lahan kering.
Untuk itu, digelar Sosialisasi Pengembangan Lahan Percontohan (Demplot) Budidaya Padi Gogo kepada para petani di Kecamatan Muara Jawa, Kutai Kartanegara, oleh para ahli Intitut Pertanian Bogor (IPB), mitra industri, penyuluh pertanian, dan kelompok tani.
Setia Lenggono, Direktur Ketahanan Pangan Otorita IKN, mengatakan pengembangan Padi Gogo menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan di IKN.
“Kegiatan Sosialisasi Pedoman Padi Gogo yang kita lakukan ini adalah langkah awal dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi padi gogo di wilayah IKN. Padi gogo, seperti Mayas merupakan komoditas pangan yang umum dibudidayakan petani lokal karena lebih adaptif ditanam pada lahan kering,” kata Setia Lenggono.
“Selain harganya lebih tinggi dari padi biasa karena cita-rasanya yang enak dan harum, sehingga peningkatan produksi secara signifikan dapat meningkatkan sumber pendapatan petani,” lanjutnya.
Dirinya menjelaskan produktivitas padi gogo lokal di Muara Jawa rata-rata hanya 2 ton per hektare, sementara varietas unggul seperti IPB Gogo 9 yang diperkenalkan pada sosialisasi ini mampu menghasilkan hingga 4 ton per hektare apabila dikelola dengan baik.
Menurutnya, Padi Gogo juga sejalan dengan prinsip pertanian konservasi karena tidak memerlukan pengolahan lahan intensif, dapat ditanam secara tumpang sari, dan tidak mentoleransi praktik pembakaran lahan yang mencemari udara dan membunuh organisme pengurai tanah, serta tidak sesuai dengan visi IKN sebagai kota berkelanjutan.
“Tidak berhenti hanya sampai pada tahap sosialisaai pedoman, kegiatan ini ditindaklanjuti dengan serah terima benih pada para petani dan penanaman padi IPB Gogo 9 di demplot yang telah dipersiapkan oleh Kelompok Tani Maju Bersama Desa Muara Jawa Ulu,” jelasnya.
Jika demplot ini berhasil, kedepannya pengembangan Padi Gogo di wilayah IKN akan dikembangkan pada zona pertanian di wilayah pengembangan (WP) yang lain, serta kawasan pengembangan (KP IKN) yang umumnya memiliki karakteristik tanah yang kering.
Hal ini dilakukan sebagai upaya nyata untuk memastikan alokasi minimal 10 persen kawasan daratan IKN sebagai area produksi pangan dapat mulai dilaksanakan secara bertahap.
Guru Besar Agronomi dan Hortikultura IPB, Prof Suwarto, melaporkan varietas IPB 9G dipilih karena telah teruji di berbagai daerah.
“Kami mengambil varietas yang memang sudah dicoba di banyak tempat dan terbukti adaptif, yaitu IPB 9G. Keunggulannya adalah umur panen lebih pendek, pertumbuhan dan produktivitas tinggi. Potensinya mencapai 9 ton per hektare, dan realisasinya bisa 4–4,5 ton, lebih tinggi daripada varietas lokal,” ungkapnya.
Prof Suwarto menambahkan lahan kering yang mendominasi wilayah pengembangan IKN menjadikan Padi Gogo sebagai pilihan paling tepat untuk pemenuhan sumber karbohidrat masyarakat.
“Selain itu teknologi konservasi dalam budidaya Padi Gogo juga memungkinkan pola tanam tumpang sari yang lebih berkelanjutan,” tegasnya. (*)



