Tepian News – Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (DPPKUKM) Kalimantan Timur memperkirakan adanya kenaikan harga sejumlah bahan pangan. Namun, lonjakan tersebut dinilai masih dalam batas wajar.
Kepala DPPKUKM Kaltim, Heni Purwaningsih, mengungkapkan bahwa berdasarkan pemantauan di lapangan, beberapa komoditas mulai mengalami kenaikan harga seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat.
“Beberapa komoditas memang diproyeksikan mengalami kenaikan, seperti daging sapi, cabai, dan bawang merah. Pola ini hampir selalu terjadi setiap menjelang hari besar keagamaan,” ujar Heni.
Ia menjelaskan, kenaikan harga ini tidak terlepas dari tingginya ketergantungan pasokan bahan pokok dari luar daerah.
Sebagian besar kebutuhan pangan di Kalimantan Timur masih didatangkan dari luar pulau.
“Sekitar 70 hingga 80 persen kebutuhan bahan pokok masih disuplai dari luar Kalimantan Timur. Kita bukan daerah produsen untuk beberapa komoditas tersebut, sehingga sangat bergantung pada kelancaran distribusi,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat harga di pasar sangat sensitif terhadap perubahan biaya distribusi, terutama saat permintaan meningkat menjelang Lebaran.
Komoditas seperti daging sapi, cabai, dan bawang merah menjadi perhatian utama karena perannya yang penting dalam kebutuhan konsumsi masyarakat saat hari raya.
“Komoditas yang paling diwaspadai mengalami kenaikan adalah daging sapi sebagai kebutuhan utama saat hari raya, serta cabai dan bawang merah yang menjadi bumbu pokok dalam berbagai masakan,” katanya.
Meski demikian, DPPKUKM Kaltim memperkirakan kenaikan harga hanya berada di kisaran tiga hingga lima persen dari harga normal.
“Kalau melihat tren yang ada, kenaikan diperkirakan sekitar tiga sampai lima persen dari harga normal,” tambah Heni.
Untuk menjaga stabilitas harga, pihaknya akan terus melakukan pengawasan pasar guna mengantisipasi praktik spekulasi yang dapat memicu lonjakan harga tidak terkendali.
“Pengawasan pasar akan terus dilakukan guna mencegah adanya praktik spekulasi yang dapat memicu kenaikan harga secara tidak terkendali,” tegasnya. (*)



