Tepian News – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) memperkuat strategi mitigasi bencana dengan mendorong setiap kabupaten dan kota membentuk Kampung Siaga Bencana (KSB), khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, baik alam maupun sosial, sekaligus mempercepat penanganan pada fase awal kejadian.
Menurut Arif Maulana, Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Pertama Bidang Penanganan Bencana Dinas Sosial Kaltim, keberadaan KSB memiliki peran vital dalam situasi darurat.
Ia menekankan bahwa respon cepat pada menit-menit awal sangat menentukan dampak yang ditimbulkan.
“Dalam penanganan bencana ada istilah golden time, yaitu waktu krusial di awal kejadian. Jika masyarakat sudah siap, proses evakuasi dan penyelamatan bisa jauh lebih efektif,” ujar Arif Maulana.
Tak hanya berfungsi sebagai pusat kesiapsiagaan, KSB juga dirancang sebagai basis logistik di tingkat komunitas.
Melalui sistem ini, kebutuhan dasar korban bencana dapat dipenuhi secara mandiri sebelum bantuan dari pemerintah pusat tiba.
“Selain aksi penyelamatan, Kampung Siaga Bencana juga menjadi lumbung logistik. Dengan begitu, warga tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan luar di fase awal bencana,” katanya.
Saat ini, sebanyak 14 Kampung Siaga Bencana telah terbentuk di berbagai daerah strategis di Kalimantan Timur, di antaranya Samarinda, Balikpapan, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, Paser, Kutai Barat, dan Kutai Kartanegara.
Seluruh KSB tersebut dilaporkan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan penanggulangan bencana, mulai dari penanganan kebakaran permukiman hingga pencarian korban tenggelam.
Pemprov Kaltim menegaskan bahwa pembentukan KSB tidak dilakukan di semua desa, melainkan diprioritaskan pada wilayah rawan bencana yang memiliki unsur relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana).
“Pembentukan KSB memang tidak di semua desa. Prioritasnya adalah daerah rawan bencana, dengan syarat adanya relawan Tagana yang aktif,” jelas Arif.
Ia menambahkan, relawan Tagana wajib memiliki tiga kemampuan dasar, yakni pengelolaan dapur umum, keterampilan mendirikan tenda darurat, serta pemberian dukungan psikososial bagi penyintas bencana.
Pemerintah daerah juga terus melakukan evaluasi terhadap kinerja relawan Tagana. Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka yang bekerja secara sukarela, pemerintah memberikan tali asih.
“Mereka benar-benar relawan yang terjun langsung di masyarakat. Tagana menjadi garda terdepan dalam penyelamatan dan pemenuhan kebutuhan dasar warga saat musibah terjadi,” tegasnya. (*)



