Tepian News – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) terus memperkuat langkah menuju swasembada pangan, khususnya komoditas beras.
Salah satu fokus utama yang ditekankan adalah keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian sebagai upaya menjaga keberlanjutan produksi pangan daerah.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyebutkan, regenerasi petani menjadi tantangan serius di tengah berbagai persoalan yang dihadapi sektor pertanian.
Untuk itu, Pemprov Kaltim mendorong peran anak muda melalui sejumlah program, seperti Brigade Pangan, Pemuda Tani Indonesia, dan Petani Milenial, yang dilengkapi dengan insentif serta dukungan sarana produksi modern.
“Ketahanan pangan tidak hanya soal angka, tetapi hasil kerja bersama antara pemerintah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan agar Kaltim benar-benar berdaulat pangan,” ujar Seno Aji.
Di sisi lain, ia mengungkapkan bahwa secara nasional Kaltim menempati posisi dua besar dalam Indeks Ketahanan Pangan Nasional 2025. Dengan skor 80,82 dan masuk kategori sangat tahan, kebutuhan pangan masyarakat dinilai tetap terpenuhi, baik dalam kondisi normal maupun saat terjadi bencana.
Namun demikian, Seno Aji tidak menampik masih adanya tantangan besar ke depan. Keterbatasan lahan subur, produktivitas pertanian yang belum maksimal, hingga ketergantungan pasokan beras dari luar daerah masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Untuk meningkatkan hasil panen, Pemprov Kaltim telah menerapkan berbagai inovasi, termasuk rekayasa lahan dengan penambahan kapur dan dolomit serta penggunaan metode Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA).
Upaya tersebut terbukti mampu mendongkrak produktivitas padi dari sebelumnya 3–4 ton menjadi 6–7 ton per hektare dalam sekali panen.
“Dulu kemampuan kita baru sekitar 30 persen dalam memenuhi kebutuhan beras, sekarang sudah mencapai 60 persen,” jelasnya.
Selain peningkatan produktivitas, Pemprov Kaltim juga menargetkan perluasan lahan pertanian.
Luas lahan yang saat ini sekitar 33 ribu hektare ditargetkan bertambah menjadi 50 ribu hektare melalui program cetak sawah baru dan optimalisasi lahan yang sudah ada.
Berdasarkan data Angka Sementara Kerangka Sampel Area (KSA) BPS hingga 30 Desember 2025, produksi beras Kaltim pada tahun 2025 tercatat mencapai 158.442 ton atau meningkat sekitar 9,11 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Luas panen juga naik menjadi 66.602 hektare, tumbuh 5,65 persen dari tahun 2024 yang seluas 63.041 hektare dengan produksi 145.209 ton.
“Sedikit lagi kita bisa mencapai 100 persen kebutuhan beras Kaltim, bahkan berpotensi surplus,” katanya.
Meski optimistis, Seno Aji mengingatkan bahwa target besar swasembada pangan tetap dihadapkan pada berbagai risiko, mulai dari perubahan iklim, bencana alam yang berpotensi menyebabkan gagal panen, hingga dinamika ekonomi global dan fluktuasi harga pangan lokal.
Tantangan lainnya mencakup keterbatasan infrastruktur pertanian, kondisi lahan dan ketersediaan air, serta laju pertumbuhan penduduk yang tidak sebanding dengan ketersediaan lahan produktif.
Seluruh persoalan tersebut, menurutnya, harus disikapi secara kolaboratif agar ketahanan pangan Kaltim tetap terjaga. (*)



